PDAM Maros

Sekolah Swadaya di Pelosok Tompobulu Maros Butuh Perhatian

MAROS – Untuk memudahkan akses warga usai sekolah terhadap pendidikan di wilayah pelosok, masyarakat membangun sekolah secara swadaya.

Sekolah di atas pegunungan di Dusun Bara Bonto Somba Tompobulu Maros. (Ist.)

Namun sekolah yang berada di atas pegunungan di Dusun Bara Desa Bonto Somba Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros ini butuh tenaga pengajar. Sudah sepekan lamanya tidak ada seorang guru yang datang mengajar ke sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) DDI Bara.

Warga setempat yang juga merupakan orang tua salah satu siswa, Sabaria mengatakan, sudah seminggu ini tidak ada seorang guru yang datang mengajar. Meski sebelumnya terdapat seorang guru tetap yang mengajar di sekolah ini.

“Dulu pernah ada pengajar tetap, tapi sejak seminggu ini tidak ada lagi. Biasanya juga hanya mahasiswa dan relawan yang mengisi pembelajaran tapi tidak menetap hanya musiman,” ungkapnya,┬áKamis (11/1/2018).

Di sekolah ini hanya terdapat satu orang guru yang mengajar dengan status sebagai guru sukarela dan dalam sepekan aktivitas belajar mengajar hanya dilakukan satu sampai dua kali.

Hal ini dikarenakan untuk mengakses lokasi ini membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam berjalan kaki dengan medan terjal, mendaki di dalam hutan dan menyeberangi sungai.

“Harapan kami, mudah-mudahan sekolah ini tetap maju dan anak-anak juga tetap belajar dengan baik dan pihak sekolah memberikan perhatian,” ungkapnya.

Sementara Koordinator Indonesia timur Lembaga Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP), Bagus Dibyo Sumantri saat menyambangi sekolah tersebut mengatakan, meski dengan alasan apapun, semestinya tidak ada sekolah di Maros seperti ini.

“Namun karena hal ini bagian dari swadaya masyarakat untuk membuat sekolah. Meski masih terbilang belum layak,” katanya.

Ketua IGI Maros ini mengakui, adanya kekurangan sarana dan prasarana yang dimiliki, khususnya pada tenaga pengajar yang sebelumnya hanya satu orang saja.

“Di sini ada harapan untuk belajar yang luar biasa, saya berharap pemerintah atau semua pihak, baik NGO dan lainnya bergerak bersama-sama, karena di sini lokasinya terpencil dan sangat butuh pendidikan yang layak,” jelasnya.

Saat berkunjung ke dusun ini, dia menyamatkan diri mengajar yang diselingi dengan yel-yel untuk memacu semangat siswa.

Untuk diketahui, dusun ini berjarak kurang kebih 45 kilometer dari Maros kota ini dihuni kurang lebih 400 kepala keluarga dan hanya terdapat satu sekolah, yakni kelas jauh milik Yayasan Pondok Pesantren Al-Muhajirin DDI Sakeang Maros, dengan jumlah siswa 53 orang tingkatan MI dan 20 orang tingkatkan MTs. (*)

Leave a Reply