oleh

Manusia Prasejarah di Gua Jarie Maros Sudah Menanam Padi

MAROS – Kerangka manusia prasejarah yang ditemukan di gua Leang Jarie Kecamatan Simbang Kabupaten Maros Sulawesi Selatan diperkirakan berusia 4.000 tahun. Kepastian umur kerangka akan mengungkap asal muasal penduduk asli Nusantara.

Kerangka manusia prasejarah di Gua Jarie Maros. (Ist.)

Ketua Tim Arkeologi dan Prasejarah Balai Arkeologi Makassar, Budianto Hakim mengungkapkan, sampel karbon yang terdiri dari kerang, tulang dan arang telah dikirim ke Selandia Baru untuk memastikan umur ketiganya. Hasilnya akan diketahui beberapa pekan kemudian.

“Kita harapkan dengan kepastian umur yang kita dapatkan nanti akan ungkap dari mana penduduk asli Nusantara ini. Sesudah lebaran akan didapatkan hasilnya. Ini akan menjadi penemuan yang menarik,” ujarnya, melalui media, Sabtu (2/6/2018).

Menurutnya, selama ini para ahli beranggapan asal muasal penduduk Nusantara berdasarkan gen berasal dari res Austronesia yang berasal dari bangsa Mongolia dan Taiwan. Penemuan kerangka manusia prasejarah ini juga telah mendapatkan pujian dari para ilmuan asing.

“Kalau Sulawesi 80 persen adalah dari Ras Mongoloid,” ungkapnya.

Jenis kelamin dan penyebab kematian manusia prasejarah ini masih belum diketahui. Hal ini karena bagian tulang belakang kerangka belum terlihat selama eskavasi.

Semasa hidup, manusia prasejarah ini mulai menetap dan membawa pengetahuan cara bercocok tanam padi.

“Sudah masuk era neolitik. Manusia perasejarah di sini membawa pengetahuan tentang padi. Bagaimana beternak dan bertani,” jelasnya.

Analisis soal pengetahuan tentang cara bertanam padi ini didapatkan dari penelitian yang dinamakan analisis polen. Analisis polen menunjukkan, di dalam tanah tempat ditemukannya jejak manusia prasejarah tersebut terdapat benih padi.

“Polen adalah serbuk sari dari padi. Kalau di Maros diperkirakan 8.000 tahun lalu,” katanya.

Pola kehidupan manusia era 4.000 tahun lalu di Sulsel disebut juga sudah mulai menetap. Mereka menggunakan teknik pertanian dengan ladang berpindah.

“Mereka menebang dan membakar. Kalau siklusnya berubah, mereka kembali ke tanah garapan awal. Sisanya ada yang berburu binatang liar, juga sudah mulai menjinakkan binatang, termasuk membudidayakan tanaman,” tambahnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita terbaru