oleh

Menengok Tradisi Peca’ Sura di Masyarakat Maros

-BERITA, SOSIAL-170 views

MAROS – Membuat peca’ sura atau bubur Asyura pada 10 Muharram masih menjadi tradisi masyarakat Islam di Sulawesi Selatan, termasuk di Kabupaten Maros.

Tradisi peca’ sura di Soreang Maros. (Ist.)

Warga Kelurahan Soreang Kecamatan Lau pun masih mempertahankan tradisi ini. Bubur yang dilengkapi aneka lauk-pauk dan buah-buahan itu disiapkan di Masjid Nurul Jamaah untuk disantap bersama dan dibagikan, Kamis (20/9/2018).

Setiap rumah tangga diharapkan membawa peca’ sura ke Masjid. Setelah berdoa bersama di masjid, peca’ sura yang telah dikemas dalam piring atau mangkuk itu kemudian dibagi-bagikan kepada warga. Menjadi lebih meriah saat anak-anak berebut piring dan mangkuk tersebut.

“Tradisi ini sudah dijalani turun-temurun untuk memperingati perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan siar Islam,” kata pengurus masjid, Suardi.

Dalam pembuatan peca’ sura tidak ada paksaan, siapa yang memiliki kemampuan ekonomi akan memberikan porsi yang lebih banyak.

Selain di Lingkungan Soreang, warga di Lingkungan Macoa juga melakukan tradisi yang sama. Warga berkumpul di Masjid Nurul Al-Amin menjelang berbuka puasa, berdoa bersama kemudian bersantap peca’ sura bersama sebagai sajian buka puasa. Ada juga peca’ sura yang dibawa pulang untuk keluarga di rumah.

Bubur ini biasanya dihiasi telur dadar berwarna-warni, tumpi-tumpi, lauk yang terbuat dari ikan bandeng dihaluskan yang dicampur dengan kelapa, dibentuk segitiga atau bulat kemudian digoreng. Kemudian ada ikan goreng, udang, perkedel, kacang, kerupuk, labu, talas, jeruk, apel dan lainnya.

Bukan hanya di Soreang Lau, tradisi ini juga masih dilakukan di sejumlah wilayah di Maros, dalam memperingati hari Asyura’ atau hari kesepuluh pada bulan Muharram, untuk memaknai sejarah perjuangan Islam.

Bubur Asyura menjadi suatu kebiasaan yang menarik dan yang dilakukan masyarakat, apalagi mengingat unsur budaya banyak berpengaruh terhadap penyebaran Islam di masa lalu. Bukan hanya di Indonesia, tradisi ini juga dilakukan umat muslim di negara tetangga, seperti Malaysia dan Brunei Darusalam.

Tradisi peca’ sura dimaknai sebagai simbol keselamatan dan mengharapkan keberkahan, dengan makna subtansi adalah bersilaturrahmi membagi rasa sukur kepada sesama warga. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita terbaru