oleh

Warga Soreang Maros Gelar Maulid Nabi dengan Perahu Hias

-BERITA, SOSIAL-281 views

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara unik, juga dilakukan warga Kelurahan Soreang Kecamatan Lau Kabupaten Maros, Sabtu (1/12/2018). Maulid ini digelar dengan miniatur perahu dan rumah yang dihias berbagai ornamen.

Maulid Nabi Muhammad ala warga Soreang Maros.

Ratusan warga, anak-anak hingga orang dewasa berkumpul di bawah miniatur perahu dan rumah yang berada di halaman rumah warga tersebut. Mereka menunggu untuk mengambil bingkisan berupa telur dan aneka makanan yang digantung dan tersimpan di miniatur perahu dan rumah itu.

Pemerhati budaya lokal Maros, Ilham Halimsyah menyampaikan, tradisi ini telah dilakukan turun-temurun dan digelar warga sebagai bagian dari tradisi Maudu Lompoa Cikoang Takalar.

“Berdasarkan cerita tokoh masyarakat, Karaeng Hamza S Campa, warga Soreang Maros sudah mengenal tradisi maudu lompoa ala Cikoang tersebut sejak sekitar 80 tahun yang lalu,” ujarnya.

Warga Soreang yang menggelar tradisi ini masih memiliki hubungan kekerabatan dengan penyebar agama Islam di Cikoang Takalar, Sayyid Djalaluddin bin Muhammad Wahid Al’ Aidid.

Sayyid Djalaluddin merupakan ulama besar asal Aceh, cucu Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, keturunan Arab Hadramaut atau Arab Selatan dan keturunan yang ke-27 Nabi Muhammad SAW. Dia tiba di Kerajaan Gowa pada abad ke-17 saat masa pemerintahan Sultan Alauddin dan diangkat menjadi Mufti Kerajaan Gowa.

Saat Putra Mahkota Kerajaan Gowa lahir, oleh Sayyid Djalaluddin diberinya nama Muhammad Al-Baqir I Mallombassi Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin, yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Nasional.

Keturunan Sayyid Djalaluddin kemudian ikut menyebarkan agama Islam ke seluruh Sulsel, hingga kemudian tiba di Maros. Maulid Nabi ala Cikoang yang sudah berlangsung sejak tahun 1632 Masehi tersebut diteruskan oleh para keturunannya.

“Setiap tahun keluarga dan kerabat Sayyid Djalaluddin berusaha mengadakan peringatan Maulid Nabi dengan tradisi perahu, termasuk keturunannya yang berada di Soreang Maros. Diantaranya Tuang Nena dan Dg Aminah, istri almarhum Tuang Nguse, pemilik rumah yang menggelar maulid perahu ini,” kata Seklur Soreang ini.

Tradisi ini diawali dengan barazanji. Setelah itu, ratusan warga menyerbu miniatur perahu dan rumah untuk mengambil isinya. Walau terlibat rebutan, tradisi ini membangun silaturahmi antara warga.

Seorang warga, Anadia mengatakan, dirinya hanya mendapat satu bingkisan berupa tempat nasi yang berisi makanan ringan. Walau tidak sempat memanjat miniatur perahu, dia senang bisa dapat bingkisan dan ikut marayakan Maulid Nabi sebagai wujud kecintaan kepada Rasulullah.

Meski memiliki hubungan dengan tradisi maudu lompoa Cikoang Takalar, namun maulid perahu hias di Soreang Maros sudah menyesuaikan dengan kondisi geografis setempat, yakni miniatur perahu didirikan di daratan tanpa diarak atau dibawa ke sungai. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru