oleh

Hari ini Kawasan Wisata Alam Bantimurung Maros Berumur 100 Tahun

-BERITA, RAGAM-3.445 views

Kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung Maros ternyata sudah berumur 100 tahun, tepat 21 Februari 2019 ini.

100 tahun kawasan wisata alam Bantimurung Maros, 1919-2019.

Kawasan wisata tertua di Sulawesi Selatan ini sudah seabad berkiprah sebagai wisata alam yang terkenal di dunia dengan ikon: kupu-kupu, air terjun dan karst. Julukan “The Kingdom of Butterfly” begitu melekat pada kawasan wisata ini.

Alfred Russel Wallace telah berhasil mengidentifikasi ratusan kupu-kupu di wilayah karst Maros, termasuk Bantimurung. Dia mengabadikan kisah telusurannya dalam buku berjudul “The Malay Archipelago” pada tahun 1869. Kawasan wisata ini kemudian terkenal dan mendunia.

Bantimurung merupakan kawasan wisata bersejarah, sejak zaman kolonial Hindia Belanda, wilayah ini mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Juga beberapa kawasan konservasi lainnya, Bantimurung ditetapkan menjadi monumen alam sejak tahun 1919.

Ketetapan termaktum dalam lembaran negara Hindia Belanda nomor 90, pada 21 Februari 1919. Dalam ketetapan itu ditunjuk Bantimurung sebagai monumen alam “Natuurmonument Bantimoeroeng Waterval” seluas 10 hektar.

Pada 1915, ahli entomologi Belanda, Marinus Cornelius Piepers, menulis surat kepada sahabatnya, Sijfert Hendrik Kooders. Pada kutipan suratnya tertulis:

“Hutan khas mengelilingi air terjun Bantimurung, tidak ditemukan di tempat lain di Hindia Belanda. Kupu-kupu bertebaran di tepi pasir di bawah air terjun. Seperti Wallace sebutkan dan juga Ribbe. Ribuan kupu-kupu unik di Sulawesi ini berkumpul di perbatasan antara wilayah Indo-Malaya dan Australia-Malaya. Sangat disayangkan jika ini punah. Oleh karena itu, saya mengajak anda untuk menyelamatkannya.”

Kooders, yang menjabat sebagai ketua sekaligus pendiri Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda saat itu merupakan pelopor konservasi alam di Indonesia. Sedang Carl Ribbe adalah seorang penjelajah dan ahli entomologi asal Jerman. Sedangkan Alfred Russel Wallace adalah seorang naturalis asal Inggris.

Perlindungan terhadap kawasan tersebut dilatarbelakangi oleh adanya beberapa wilayah yang memiliki nilai ilmiah atau estetika yang khas. Untuk melindunginya dari kerusakan dan kehancuran, maka perintah hadir untuk melindunginya. Belanda memiliki istilah “Natuurmonument” monumen alam atau cagar alam untuk istilah saat ini.

Selanjutnya, Kooders melalui siaran persnya pada koran Belanda: De Preanger-bode edisi 4 Maret 1919, menuturkan bahwa perlindungan monumen alam tersebut tidak hanya dikenal secara nasional, tapi hingga internasional. Maka putusan penetapannya sangat penting dan mesti disiarkan secara luas.

Upaya Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu telah menempatkan Belanda dalam daftar negara dengan capaian tertinggi konservasi monumen alam, dibanding Amerika, Jerman, Swiss dan beberapa negara lainnya.

Kooders menegaskan, bukan hanya persoalan banyaknya jumlah situs yang mesti dikonservasikan sebagai monumen alam, tapi karena nilai ilmiah yang begitu penting dari beberapa situs. Putusan pada 21 Februari 2019 tersebut mengantatkan Hindia Belanda menjadi garis terdepan di kalangan negara-negara tropis dalam hal perlindungan alam.

Usai itu, air terjun Bantimurung semakin menjadi primadona untuk menikmati keindahan alam. Menjadi objek wisata yang digandrungi oleh wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Bukan hanya itu, sejumlah naturalis juga datang jauh-jauh untuk menelisik lebih jauh kupu-kupu yang mendiami wilayah ini.

Tata kelola Bantimurung mengalami perubahan status pada 1981, melalui surat keputusan Menteri Pertanian pada 30 Maret 1981, merubah status Cagar Alam Bantimurung seluas 18 hektar menjadi taman wisata.

Perubahan status tersebut karena Bantimurung telah mengalami perubahan dan memiliki pemandangan alam yang indah. Memiliki air terjun yang bertingkat serta bermacam-macam kupu-kupu yang indah. Karenanya perlu dimanfaatkan untuk kepentingan rekreasi, pariwisata, pendidikan dan kebudayaan.

Tata kelola Bantimurung kembali mengalami perubahan pada tahun 2004, bersama kawasan konservasi lain di sekitarnya, ditunjuk menjadi bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Ikonnya adalah gugusan karst dan kupu-kupu.

Sampai saat ini, riuh kupu-kupu masih dapat dijumpai di Bantimurung. Pada tataran tata kelola spesies, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) telah melakukan sejumlah upaya melestarikan kupu-kupu.

Mulai dari indentifikasi kupu-kupu, pemetaan sebaran habitat, indentifikasi pakan hingga monitoring populasi. Juga ada upaya lain, yakni pembinaan habitat, penyadartahuan masyarakat, mendirikan Sanctuary kupu-kupu, hingga masyarakat turut serta berpartisipasi dalam membangun penangkaran.

Kepala Balai TN Babul, Yusak Mangetan mengatakan, saat ini TN Babul telah berhasil mengidentifikasi kupu-kupu sebanyak 247 jenis. Sebanyak 25 jenis di antaranya telah berhasil dikembangbiakkan secara rutin di penangkaran kupu-kupu yang berada di kawasan Bantimurung.

“Setelah seratus tahun tata kelolanya, Bantimurung telah memberikan ragam manfaat. Baik dari segi pendidikan dan ilmu pengetahuan, wisata, hingga jasa air. Kemakmuran bagi masyarakat sekitar, pemda, hingga penerimaan PNBP bagi negara. Kita tentu berharap agar kemurnian atau keaslian dari Bantimurung ini tetap terjaga dan terus memberikan manfaat,” ujarnya, Kamis (21/2/2019).

Dia berharap, ke depan tata kelola Bantimurung tetap dapat mempertahankan eksistensi dan kelestariannya.

“Kita tentunya akan terus melakukan perbaikan, ke depannya sinergitas semua pihak tentu kita harapkan. Agar tata kelolanya itu terus eksis dan tetap lestari. Termasuk kupu-kupu yang menghuninya terus menerus memamerkan sayap indahnya,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Maros, Muh Ferdiansyah mengatakan, melalui momentum 100 tahun Kawasan Wisata Alam Bantimurung Maros, kita tingkatkan kualitas pelayanan terhadap wisatawan. Berbuat lebih optimal dan profesional.

“Kita mesti tingkatkan sinergitas dalam pelayanan terhadap wisatawan. Hingga dapat meningkatkan daya saing obyek wisata andalan Kabupaten Maros pada khususnya dan destinasi unggulan pariwisata Sulawesi Selatan pada umumnya. Keberadaan wisata alam Bantimurung harus bisa meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya. Menjadi salah satu pendukung kegiatan kepariwisataan di daerah kita ini,” paparnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru