oleh

Kisah Pria Lumpuh di Maros: Menolak Jadi Pengemis Memilih Usaha Tambal Ban

-BERITA, SOSIAL-1.503 views

Pria penderita lumpuh di Bontoa Mandai Maros, Zulkifli (28), tetap semangat menjalani hidupnya. Meski memiliki keterbatasan fisik, dia tidak mau membebani keluarga atau warga lainnya. Dia memilih mencari nafkah sendiri.

Pria lumpuh tukang tambal ban, Zulkifli.

Keterbatasan fisik yang dimiliki tetap disyukuri. Kifli, sapaanya, mencari nafkah sebagai tukang tambal ban.

Dia membuka bengkel tambal ban di kampungnya. Bengkel tersebut ramai dikunjungi warga, karena cara pelayanan yang memuaskan. Dia melakoni profesinya sebagai tukang tambal setelah ayahnya meninggal 10 tahun silam.

Kifli hanya meneruskan usaha bengkel yang berada di Kompleks Perhubungan Mandai Maros, untuk membantu ibunya, Daeng Hawa yang kini berusia 59 tahun.

Keterbatasan biaya dan kondisi fisik membuat Kifli tidak pernah bersekolah. Keahlian menambal ban dan memperbaiki motor dipelajari saat ayahnya masih hidup.

“Sejak lahir kondisi saya seperti ini, tidak bisa jalan. Jadi saya lanjutkan usaha bapakku sejak 10 tahun lalu,” ujarnya, melalui media, Jumat (15/3/2019).

Kifli menjadi tulang punggung keluarga. Anak bungsu dari enam bersaudara tersebut tidak pernah mengeluh, demi membahagiakan ibunya.

Baginya membagiakan ibu, merupakan kepuasan tersendiri dan wajib dilakukan. Sang ibu juga tidak pernah menuntut Kifli supaya mendapat penghasilan yang banyak. Mereka sudah sangat bersyukur saat bisa menutupi kebutuhan sehari-hari.

Kifli senang dengan profesinya tersebut. Menjadi tukang tambal ban, merupakan cara Allah membahagiakannya. Selain motor, dia juga mahir mereparasi sepeda. Meski dia hanya bisa merangkak, tapi dia selalu semangat.

“Keterbatasan fisik tidak perlu disesalkan. Kita harus syukuri pemberian Allah. Kita harus cari pekerjaan yang halal. Semangat harus tetap maksimal,” ungkapnya.

Sejumlah warga yang memperbaiki motor di bengkel Kifli, merasa prihatin dan memberikan bonus. Warga merasa puas dengan hasil kerja Kifli. Hanya saja, dia selalu menolak pemberian bonus tersebut atas belas kasihan. Dia sangat pantang menerima pemberian sebelum berkerja.

Kifli menceritakan, kondisi fisik yang dialaminya membuat beberapa orang pernah datang menawarinya menjadi pengemis. Tapi hal itu ditolak. Dia menilai, meminta-minta merupakan hal yang dilarang. Dia ingin menafkahi keluarganya dengan hasil keringat dari usaha bengkelnya.

“Ada juga orang datang menawari, supaya saya jadi pengemis. Katanya banyak penghasilan. Tapi saya tidak mau dan marahi mereka,” ujarnya.

Kifli percaya dengan kemampuannya untuk bekerja, karena itu, mengemis merupakan pantangan baginya.

Penghasilan Kifli sebagai mekanik memang tidak seberapa. Dalam sehari, paling banyak dia dapat Rp 60 ribu. Tapi kadang, dia pulang ke rumah dengan tangan kosong, karena sepi pelanggan. Hasil kerja kerasnya, diberikan kepada sang ibu. Jika butuh modal, Kifli kembali meminta uang ke ibunya.

“Paling banyak saya dapat Rp 60 ribu. Tapi kadang tidak ada. Namanya usaha. Setiap hari, uang yang saya dapat disetor ke ibu. Itu untuk biaya sehari-hari,” paparnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru