oleh

Kalapas Maros Minta Warga Binaan Tanam Satu Pohon Sebelum Bebas

-BERITA, RAGAM-71 views

Literasi Lingkungan kini berkembang di Lapas Klas II A Maros. Literasi lingkungan digalakkan sekaligus memeriahkan Peringatan Hari Air Sedunia 2019, Hari Hutan Internasional 2019, serta menyambut Hari Ulang Tahun Pemasyarakatan 2019.

Gerakan Literasi Lingkungan di Lapas Maros.

Literasi lingkungan dimaksud berupa penanaman pohon untuk Hutan Kota demi membangun suasana hijau dan sejuk seputar Lapas Klas II A Maros, mulai Kamis 21 Maret lalu.

Hutan kota adalah hutan atau sekelompok pohon yang tumbuh di dalam kota atau pinggiran kota. Dalam arti yang lebih luas bisa berupa banyak jenis tanaman keras atau pohon yang tumbuh di sekeliling pemukiman.

Pohon yang ditanam bermacam-macam, seperti mahoni, jamplang, bambu kuning, sukun, rambutan dan lain-lain.

Aneka tumbuhan bantuan dari Balai Perbenihan Tanaman Hutan Wilayah II Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Hadir dalam penanaman pohon yang melibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) tersebut, Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Sulawesi-Maluku (P3E-Suma, Dr Darhamsyah dan Kepala Tata Usaha P3E Suma, Azri Rasul.

Kepala Lapas Kelas II A Maros, Indra Setiabudi Mokoagow mengemukakan bahwa selain menjalankan instruksi pimpinan, juga sudah menjadi tekadnya melakukan gerakan tanam pohon, satu WBP yang akan bebas tanam satu pohon.

“Biar menjadi kenangan, bahwa saya pernah di sini untuk sebuah perjalanan hidup,” ujarnya, melalui media, Sabtu (23/3/2019).

Dr Darhamsyah menyambut baik gerakan Literasi Lingkungan di Lapas Klas II A Maros tersebut.

“Hari ini tepat peringatan Hari Air Sedunia, kemarin peringatan Hari Hutan Internasional sehingga apa yang dilakukan saat ini adalah suatu kebutuhan untuk masa kini dan masa depan,” katanya.

Menurutnya, air dan hutan berkaitan langsung dengan pohon. Sehingga lingkungan kita dapat sejuk dan asri. Bahkan berdasarkan hasil survei di sejumlah kota yang pohonnya tumbuh dengan asri, tingkat kriminalitasnya cenderung menurun.

Sedangkan Azri Rasul mengusulkan perlunya menjadikan Lapas Maros sebagai lapas peduli lingkungan, Eco-Lapas.

Pandangan tersebut disambut hangat Kalapas Maros dan diamini para pejabat dalam lingkup Lapas Maros.

Sementara itu, penggiat Literasi dari Pustaka Jeruji Indonesia Lapas Maros, S Alam Dettiro mengemukakan bahwa aktivitas ini adalah Gerakan Literasi Lingkungan yang perlu dikembangkan secara berkelanjutan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru