oleh

Pengering Gabah Berbahan Bakar Sekam Dikembangkan di Maros

Alat pengering gabah sistem rotary dryer yang memanfaatkan sekam padi sebagai bahan bakar, kini mulai dikembangkan di Kabupaten Maros.

Alat Pengering Gabah Maros
Alat pengering gabah berbahan bakar sekam yang mulai dikembangkan di Maros.

Alat tersebut dikembangkan oleh dua dosen Universitas Teknologi Sulawesi (UTS), Sattar dan Yayu Chandra Pratiwi.

Mereka berkolaborasi dengan dosen dari Politeknik Negeri Ujung Pandang, Prof Muh Anshar.

Ketiganya tergabung dalam Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan memanfaatkan hibah pengabdian masyarakat tahun 2019 Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti).

Setelah menyelesaikan alat tersebut, tim ini melanjutkan kegiatannya dengan memberikan pelatihan penggunaan alat kepada petani dan pemilik penggilingan beras yang tergabung dalam kelompok yang dinamakan “Berasa Marusu”.

Dosen UTS, Sattar  mengatakan, kebanyakan petani melakukan pengeringan padi dengan menjemur langsung dibawah sinar matahari sehingga pengeringan akan tertunda dan terganggu bila cuaca kurang baik atau pada musim hujan,

“Apalagi selama ini, limbah penggilingan padi masih belum dimanfaatkan sebagai sumber energi alternative bagi warga. Sehingga dengan adanya alat pengering gabah sistem rotary dryer yang memanfaatkan sekam padi sebagai bahan bakar bisa memberikan solusi dari permasalahan yang dialami petani,” ujarnya, melalui keterangan tertulis, Kamis (19/9/2019).

Dia mengaku, pihaknya telah melakukan pelatihan di Pabrik Beras Alpa Jaya di Lingkungan Kasuarrang Kelurahan Allepolea Kecamatan Lau, pekan lalu.

“Mereka yang hadir sangat antusias mendengarkan dan menyimak penjelasan dari Tim PKM dan begitu seksama menyaksikan pengoperasian alat yang memanfaatkan limbah sekam yang selama ini tidak memiliki nilai bahkan cenderung mengganggu lingkungan,” jelasnya.

Seorang petani yang hadir, Dg Majid mengaku berterima kasih atas sistem pengeringan yang dikenalkan Tim PKM ini.

Dia mengaku baru mengetahui ternyata sekam yang selama ini hanya dibiarkan menggunung di pabrik-pabrik beras atau hanya dibakar begitu saja dan bahkan ada yang membuang ke sungai ternyata punya manfaat sangat besar bagi petani. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru