oleh

Usaha Budidaya Jamur Tiram di Maros Capai Omzet Hingga Rp 100 Juta Sebulan

Permintaan jamur tiram di Kota Makassar untuk konsumsi cukup besar, namun rupanya belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produsen atau petani jamur.

Jamur tiram
Usaha budidaya jamur tiram milik Mardiana di Desa Simbang Maros.

Hal tersebut diungkapkan Mardiana, agropreneur komoditas jamur tiram asal Maros. Dia adalah pemilik usaha Celebes Mushroom di Desa Simbang Kecamatan Simbang Kabupaten Maros.

Dari data yang dimiliki Mardiana, kebutuhan jamur tiram khusus di Kota Makassar berkisar 400 kilogram per hari atau sekitar 10 ton per bulan.

Sementara Mardiana baru mampu menyuplai sekitar 70-150 kilogram per hari atau 3-4 ton per bulan, yang dikumpulkan dari beberapa petani jamur di daerahnya.

“Permintaan pasar sangat besar, sementara per hari itu kami baru mampu distribusi 70-150 kilogram, apalagi saat ini permintaan bertambah terus. Mungkin karena sudah mulai populer,” ungkapnya, melalui Tribun Timur, Ahad (20/10/2019).

Mardiana setiap harinya mendistribusikan jamur ke beberapa pasar tradisional hingga modern, bahkan dia telah memiliki pelanggan tetap, di antaranya dari perhotelan.

“Setiap hari kami distribusi ke Makassar, sudah ada pelanggan tetap, mulai dari pasar tradisional, modern, restauran, hotel, bahkan ada jug klinik herbal. Kandungan jamur katanya bisa jadi obat juga,” ujarnya.

Menurutnya, peluang bisnis dari budidaya jamur tiram cukup besar, dengan omzet bisa mencapai Rp 70-100 juta per bulan.

“Jamur tiram putih saya kepas ke pasar dengan harga jual Rp25 ribu per kilogram. Dari situ omzet Rp 70-100 juta. Perputaran uang di sini juga bisa Rp 60 juta per bulan dari para petani,” ujarnya.

Melihat besarnya peluang bisnis itu, Mardiana mendorong masyarakat, khususnya di sekitar tempat tinggalnya untuk menjadi pembudidaya jamur.

Dia kini memiliki mitra sekitar 60 kepala keluarga, dengan yang produktif atau sudah menghadilkan jamur sekitar 40 KK.

Para mitranya itu membeli bibit dan media penanaman jamur (baglog) dari Mardiana dan dia kemudian akan mengepul jamur hasul produksi untuk dipasarkan.

“Jadi di sini saya siapkan bibit jamur, medianya dan jamurnya. Bibit saya produksi perbulan 2000 botol, kalau baglog 15 ribu per bulan,” paparnya.

Menurutnya, usaha yang belum banyak digeluti ini bisa jadi peluang untuk memenuhi setidaknya kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat.

“Bisa sangat membantu industri rumahan, minimal untuk sehari-hari. Dulu kan masyarakat hanya mengandalkan pertanian yang pendapatnya mungkin sekali per tiga bulan saat panen, kini bisa per hari, karena kan jamur bisa dipanen perhari,” ucapnya.

Bisnis jamur sat ini juga diakui Mardiana sudah mulai melebar hingga ke beberapa daerah.

“Daerah lain sudah mulai, paling banyak saya suplai bibit ke Soppeng, Tator, Pinrang. Mereka juga sudah mulai panen tapi rata-rata terserap pasar lokal, belum sampai Makassar,” jelasnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru