oleh

Pustaka Jeruji Lapas Maros Raih Penghargaan Literasi

Insan pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Maros dilanda suka cita.

Lapas Maros
Tasyakkuran penghargaan literasi dan HUT ke 2 Pustaka Jeruji Indonesia Lapas Maros.

Kepala Lapas Maros, Indra Setiabudi Mokoagow, menerima Penghargaan Pengembangan Budaya Literasi Terbaik Pertama.

Penghargaan diserahkan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kakanwil Kemenkumham) Provinsi Sulawesi Selatan, Priyadi pada Upacara Dharma Karyadhika di Lapas Kelas I Makassar, Rabu kemarin.

“Penghargaan ini adalah hasil kerja kolektif yang tidak tiba-tiba, sudah dimulai sejak pendahulu kami. Kami melanjutkan dan menambah kreativitas dari semangat yang sudah terbangun,” ujarnya, melalu media, Kamis (31/10/2019).

Penghargaan ini menyiratkan kegembiraan dan sukacita baik bagi Pejabat dan Petugas Pemasyarakatan maupun para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang aktif dalam kegiatan literasi di Pustaka Jeruji Indonesia Lapas Maros.

Atas penghargaan tersebut secara spontan sejumlah sejumlah Sipir dan WBP melaksanakan tasyakkuran yang dilaksanakan bersamaan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 2 Pustaka Jeruji Indonesia.

Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP), Hardiman, mewakili Kepala Lapas Maros mengungkapkan rasa syukur atas penghargaan ini.

“Rasa syukur hari ini kita ungkapkan dengan makan tumpeng bersama atas penghargaan dari Pak Kakanwil dan juga sekaligus merayakan ulang tahun kedua Pustaka Jeruji Indonesia,” katanya mengawali tasyakkuran yang berlangsung di lantai dua di Gedung Lapas Maros.

Hadir, antara lain, Kepala Subsi Binkemaswat Lapas Maros, Amran, Kepala Subsi Registrasi Lapas Maros, H Idrus, sejumlah Sipir dan Inisiator Pustaka Jeruji Indonesia Lapas Maros, Salahuddin Alam Dettiro beserta sejumlah WBP penggerak literasi di Lapas Maros.

Hardiman mengisahkan betapa Pustaka Jeruji dan Gerakan Literasi senantiasa membuat hal-hal baru.

“Penghargaan ini pantas diperoleh Lapas Maros karena kerja-kerja kita semua komponen di Lapas Maros yang mengawali gerakan literasi dari dalam Lapas di Indonesia,” urainya.

Sementara itu Amran mengemukakan, dia senantiasa akan membangun program-program berkelanjutan.

“Ke depannya kita akan semakin giatkan gerakan ini agar berkesinambungan” katanya penuh semangat saat memberikan testimoni.

Sesangkan, Idrus menyatakan rasa salut dan bangga atas apa yang diperoleh Lapas Maros.

“Sejak mendampingi Kakanwil sebelumnya, banyak mengikuti perkembangan dan prestasi Lapas Maros dan saya bangga ditugaskan disini” ungkapnya.

Debut Pustaka Jeruji Indonesia senantiasa aktif dan eksis dalam Gerakan Literasi Nasional baik di tingkat komunitas maupun di kalangan instansi Pemasyarakatan.

Seperti menyelenggarakan Temu Literasi se Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat pada Pebruari 2018 dengan menghadirkan Direktur Latihan dan Kerja Produktif (Latkepro), Harun Sulianto bersama Arswendo Atmowiloto, Nirwan Ahmad Arsuka, Alwy Rachman, Irmawaty Puan Mawar, bahkan nara sumber dari Australian National University.

Salahuddin Alam Dettiro mengatakan, tahun lalu kita merampungkan Kumpulan Puisi berjudul Syair dari Balik Jeruji adalah karya WBP Lapas Maros.

“Tahun ini kita meluncurkan Kumpulan Puisi, Cerpen dan Essai karya WBP se Indonesia dengan judul Biarkan Saja Metronom Itu, yang saat peringatan HUT Pas ke 55 di Cipinang April 2019 lalu,” bebernya.

Buku tersebut adalah hasil Sayembara antara WBP se-Indonesia berisi 50 karya Puisi, Cerpen dan Essai.

“Jika kali ini kita memperoleh penghargaan merupakan kerja keras kita semua termasuk saat Bapak Warsianto menjadi Kalapas di sini,” pungkasnya.

Atas penyelenggaraan sayembara dan penerbitan buku tersebut, Salahuddin Alam Dettiro memperoleh penghargaan dari Menteri Hukum dan HAM RI, Yasonna H Laoly.

Saat berkunjung ke Lapas Maros beberapa waktu yang lalu, Kakanwil Kemenkumham Sulsel mengemukakan  menyambut baik dan berterima kasih atas terbitnya buku tersebut.

Menurutnya, gerakan literasi ini perlu ditumbuhkembangkan sebagai bagian dari gerakan pembinaan yang lebih luas.

Dia juga menyebut, menulis adalah saksi sejarah. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru