oleh

Nenek Isa di Maros Sebatang Kara di Gubuk Terpal dan Bertahan Hidup dari Belas Kasihan

-BERITA, SOSIAL-6.394 views

Perjuangan hidup seorang nenek 80 tahun di Maros, selayaknya mendapat perhatian. Nenek Isa bertahan hidup dengan mengandalkan belas kasihan tetangganya.

Warga miskin Maros
Nenek Isa warga miskin Maros.

Nenek Isa tinggal di Lingkungan Butta Toa Selatan Kelurahan Pettuadae Kecamatan Turikale Kabupaten Maros.

Rumahnya gubuk tambal-tambalan bahan bekas. Berbahan potongan balok dan seng-seng bekas. Gubuk berukuran 3×3 meter itu, ditempati Nenek Isa sejak dua tahun terakhir.

“Tanah ini milik warga bernama Dg Supu yang kasihan dengan keadaan saya. Saya juga tidak punya pekerjaan,” kata Nenek Isa, kepada wartawan, Ahad (17/11/2019).

Untuk makan, Nenek Isa hanya mengandalkan pemberian tetangganya. Begitupun dengan uang untuk beli beras dan kebutuhan dapur lainnya.

“Kalau ada yang kasih uang, itulah saya pakai beli beras,” ujarnya.

Di gubuk tua miliknya, Nenek Isa mengaku tak memiliki gas elpiji untuk dipakai memasak. Selain tak punya uang, dia juga takut menggunakan elpiji.

“Lebih baik saya pakai kayu bakar. Tak perlu biaya, dan gampang diperoleh nak,” tuturnya.

Sebelum menetap di Maros, Nenek Isa mengaku tinggal di Daya Makassar. Saat itu, dia ikut bersama suaminya, Mamma’.

Pernikahannya dengan Mamma’ sempat dikaruniai buah hati. Tetapi, anaknya yang diperkirakan baru berusia empat tahun, dipanggil Tuhan Yang Maha Esa.

Dia meninggal dunia gegara penyakit cacar yang dideritanya.

Sekitar delapan tahun yang lalu, Nenek Isa juga dipisahkan oleh maut dengan suaminya.

“Suami saya meninggal dunia delapan tahun lalu. Sejak saat itu, saya berusaha bertahan hidup dengan menjual sirih di Pasar Daya Makassar,” tuturnya.

Tetapi, Nenek Isa tak bertahan lama sebagai penjual sirih di Pasar Daya Makassar. Dia memutuskan pulang ke kampung halamannya di Maros, seiring dengan usianya yang semakin uzur.

Nenek Isa mengaku, sempat tinggal di rumah kerabatnya. Namun itu tak bertahan lama.

“Lebih baik tinggal di tempat sendiri, tidak menyusahkan keluarga, meskipun kondisinya begini,” tambahnya.

Saat hujan, di rumahnya tersebut basah. Apalagi atap rumahnya yang hanya berbahan seng bekas, terlihat banyak yang bocor.

“Saya siapkan memang baskom atau ember untuk menadah air hujan. Biasa juga saya lari ke luar rumah kalau hujan dan angin kencang,” tuturnya.

Dia pernah mendapat bantuan beras miskin atau raskin. Tapi itu hanya beberapa kali saja dapat.

Nenek Isa berharap, suatu saat dia bisa menempati rumah yang layak seperti warga Maros lainnya.

“Saya tentu berharap bisa tinggal di tempat yang layak nak. InsyaAllah nanti kalau diberi rezeki oleh Allah SWT,” tutupnya.

Di dalam gubuk Nenek Isa, terdapat dua tempat tidur. Di bagian atap, terlihat terpal yang dibentangkan sebagai plafon, agar tidak kepanasan.

Atap rumahnya pun hanya potongan seng yang mulai bocor dan berkarat. Spanduk bekas juga terlihat dijadikan dinding di gubuknya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru