oleh

Lukisan Purba Tertua di Dunia Ditemukan di Maros

Tim Arkeolog dari Australia mengklaim menemukan lukisan figuratif tertua di dunia yang pernah diketahui di sebuah gua di Indonesia.

Lukisan purba tertua di dunia
Lukisan berumur 44 ribu tahun itu menampakkan sebuah aksi perburuan. (Foto: Nature)

Lukisan di dinding gua yang menampakkan sebuah aksi perburuan diperkirakan telah berusia sekitar 44 ribu tahun telah ditemukan di Sulawesi. Tepatnya, berada di Gua Leang Bulu Bettue di Bantimurung Maros. Tim Arkeolog telah melakukan penelitian bertahun-tahun di sana.

Klaim bahwa itu adalah lukisan purba tertua mereka laporkan dalam Jurnal Nature yang dipublikasikan pada 11 Desember 2019.

“Lukisan itu setidaknya berusia 40 ribu tahun, yang merupakan penemuan yang sangat mengejutkan,” kata Adam Brumm, kepala tim arkeolog yang berasal dari Universitas Griffith Australia, mengutip laman Republika, Sabtu (14/12/2019).

Adam Brumm menyatakan temuannya itu sebagai lukisan tertua lantaran sebelumnya ilmuan meyakini bahwa manusia mulai melukis di gua-gua di Eropa. Misalnya, karya seni dari Gua Chauvet di Prancis yang berusia 37 ribu tahun.

Berarti temuan di Gua Leang Bulu Bettue di Bantimurung Maros Sulsel tersebut lebih tua ribuan tahun.

Adam Brumm dan rekan-rekannya menggunakan teknik yang disebut analisis seri uranium untuk menentukan usia lukisan tersebut. Dia menemukan lukisan di Gua Leang Bulu itu pada tahun 2017.

Lukisan itu membentang sekitar 16 kaki di dinding gua. Karya-karya itu sebenarnya telah dikenal selama bertahun-tahun oleh penduduk setempat, namun warga tak mengetahui bahwa lukisan tersebut setua itu.

Lukisan figuratif tertua itu memperlihatkan sebuah aksi perburuan besar-besaran yang sedang dilakukan oleh manusia. Lukisan itu menceritakan kisah yang rumit, yakni menggambarkan Anoa, mamalia terbesar dan endemik Pulau Sulawesi dan babi liar dikejar oleh pemburu kecil dengan tombak dan tali.

“Mereka tampak seperti manusia, tetapi mereka tampaknya memiliki beberapa ciri atau karakteristik hewan,” ungkapnya.

Salah satunya tampak memiliki kepala seperti burung, sedangkan beberapa manusia yang lain tampak memiliki ekor.

Dia menduga, figur manusia yang digambarkan dengan tubuh sebgaian hewan itu adalah sinyal awal adanya kepercayaan-agama. Sebab, semua itu menunjukkan bahwa manusia purba dapat membayangkan hal-hal yang belum pernah mereka lihat.

“Kita tidak dapat mengetahui apakah itu ada hubungannya dengan spiritualitas. Tetapi, setidaknya kita dapat mengatakan bahwa para seniman itu mampu melakukan konseptualisasi seperti yang kita butuhkan untuk percaya pada agama, untuk percaya pada keberadaan yang supranatural,” paparnya.

Adam Brumm mengatakan penemuan-penemuan di Asia, salah satunya di Sulawesi, telah memperumit pengetahuan manusia modern tentang waktu dan lokasi pertama lukisan figuratif dibuat.

“Saya pikir penemuan yang telah muncul selama beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwa pemahaman kita tentang kisah manusia, yang merupakan bagian kunci dari kisah manusia, masih bisa direvisi,” ujarnya.

Tapi, penemuan itu juga membuat Adam Brumm gusar. Sebab, lukisan-lukisan itu sangat cepat memburuk tanpa diketuai penyebabnya.

“Ini adalah bagian yang sangat besar dan penting dari kisah manusia. Namun itu benar-benar hancur di depan mata kita,” ujarnya.

Adam Brumm dan rekan-rekannya berusaha mencari tahu penyebab masalahnya. Dia mengatakan satu teori yang memungkinkan adalah tingginya suhu gua dibandingkan area luar. Semua itu diduga akibat perubahan iklim.

Dia pun mengaku sangat terdesak saat ini untuk menuntaskan penelitiannya di gua tersebut. Sebab, setiap dua bulan sekitar satu inci lukisan itu rusak atau hancur.

Padahal keberadaan lukisan itu sangat penting bagi umat manusia.

“Siapa yang tahu bahwa ternyata ada seni gua yang menakjubkan lainnya di luar sana di beberapa situs yang dapat mengubah pemahaman kita tentang evolusi manusia?” ucapnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru