oleh

Bosowa Semen Maros Target Tumbuh 10-15 Persen Tahun ini

Pertumbuhan konsumsi semen di 2019 lesu. Prediksi pertumbuhan secara nasional yang diprediksi di angka 4-5 persen tahun lalu tak mencapai target.

Bosowa Semen Maros
Tim Bosowa Peduli bersama manajemen Bosowa Semen Maros.

Tak hanya secara nasional, kondisi pertumbuhan konsumsi semen secara lokal juga lesu, seperti yang dirasakan PT Semen Bosowa Maros (Bosowa Semen).

Marketing Division Head Bosowa Semen, Nur Alang mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat konsumsi semen tahun lalu tak berjalan maksimal.

Proyek-proyek infrasturktur yang melambat, serta masuknya brand-brand baru membuat Semen Bosowa harus bersaing ketat.

“Secara nasional pertumbuhan semen pada tahun lalu meleset dari prediksi. Awalnya diprediksi 4-5 persen, namun hanya 0,5 persen. Ada banyak kendala yang menyebabkan, seperti proyek-proyek di Jawa yang turun, meskipun sebenarnya di Indonesia Timur sedikit lebih bagus karena beberapa proyek tumbuh di sini, seperti smelter. Selain itu, persaingan juga cukup berat. Di Indonesia Timur juga sudah ada pemain baru yang masuk dua tahun ini, mereka juga mulai berproduksi dan menjadi pesaing kami,” ujarnya, dilansir dari Tribun Timur, Jumat (24/1/2020).

Menghadapi 2020, dia mengatakan, Bosowa Semen menyiapkan beberapa inovasi, salah satunya yaitu rencana membangun packing plant di Donggala, Sulawesi Tengah.

“Semen Bosowa sendiri sudah mempersiapkan beberapa inovasi, terutama untuk suplai. Salah satu kunci utama adalah mendekatkan produk kita ke pelanggan. Nah kita rencanakan membuat beberapa program untuk mengaktifkan pasar-pasar di sekitaran Semen Bosowa itu sendiri, contoh Sulawesi. Kita coba dengan membangun packing plant di Palu, namun itu masih dalam rencana, jelasnya.

Dikatakannya pula, pertumbuhan Bosowa Semen juga stagnan tahun lalu, sejalan dengan pertumbuhan nasional. Salah satu penyebabnya, kata Nur adalah proses maintenence peralatan yang dipercepat dari jadwal.

Bosowa stagnan juga, hampir sama secara nasional. Satu kendala akibat ada beberapa maintenence yang harus kami lakukan di semester dua. Ini juga jadi persoalan. Ada beberapa line kami yang sedikit mengalami perbaikan. Kita optimis di 2020 ini bisa lebih baik setelah adanya perbaikan itu. Untuk 2020 itu memang kami persiapkan dengan repair di 2019. Ada schedule maintenence yang kami mundurkan,” paparnya.

Tahun ini Bosowa Semen juga masih akan fokus menggarap pasar di Indonesia Timur, dan juga melebarkan hingga ke Kalimantan, apalagi akan ada proyek relokasi ibu kota negara yang dinilai menjadi potensi besar.

“Kami memang masih fokus di Sulawesi dan Indonesia Timur, tapi ke depan kita prepare ke Kalimantan karena akan ada proyek Ibu Kota di sana. Kami akan perkuat di sana. Sebenarnya selama ini sudah ada di sana, tapi kan kita ada beberapa perubahan strategi. Kemarin kita tak banyak main di pasar ritel, tapi untuk tahun ini akan kita garap pasar ritel,” ucapnya.

Dia melanjutkan, beberapa tantangan juga masih akan dihadapi Bosowa Semen di 2020, selain persaingan dengan brand lain, juga biaya distribusi yang dinilai semakin memberatkan.

“Tantangan besar memang di harga, karena harga semen sekarang persaingannya masih kuat. Ini juga memberatkan produsen semen. Harapannya pemerintah mengeluarkan regulasi lebih bagus. Kemudian kelangkaan solar juga sempat jadi persoalan, termasuk biaya distribusi yang semakin mahal. Jadi kami juga akan fokus memperbaiki portofolio perusahaan, kita harus berhemat biya tanpa mengurangi kualitas yang bagus selama ini, kita optimis. Tahun ini kami harap ada beberapa project di Indonesia Timur yang biasa join. Seperti di Sultra, Sulteng, dan Maluku Utara. Tahun ini target kami agak chalenging bisa tumbuh 10-15 persen,” pungkasnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru