oleh

Gubuk Reyot Sannari di Suli-Suli Maros Kembali Viral

-BERITA, SOSIAL-1.561 views

Sejak lahir, Sannari (43 tahun), bertahan di rumah bak gubuk reyot di Lingkungan Suli-suli Kelurahan Bontoa Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros.

Warga miskin di Maros
Gubuk reyot Sannari di Suli-suli Maros yang kembali viral.

Dia terpaksa tinggal di rumah reot peninggalan orangtuanya tersebut lantaran tidak ada pilihan lain.

Kisah kehidupan Sannari tersebut viral di awal tahun 2019. Kondisi Sannari di rumah beratap terpal dan daun nipah tersebut kembali viral di awal tahun 2020 ini.

“Sejak lahir saya sudah di rumah ini dan seingat saya, ini rumah memang tidak pernah diperbaiki karena keluarga kami memang sudah susah. Saya dua orang bersaudara, saya anak kedua dan tidak pernah menikah,” katanya, melalui laman detikcom, Jumat (24/1/2020).

Kondisi rumah Sannari sudah mengkhawatirkan. Kerusakan terlihat jelas di bagian atap, dinding dan lantai. Tiang rumah sudah lapuk.

“Mungkin sudah lebih 60 tahun karena rumah ini dibangun oleh nenek saya sebelum saya lahir. Karena tidak pernah diperbaiki, makanya semuanya rusak. Satu-satunya yang tidak basah kalau hujan itu hanya di tempat tidur saja,” tuturnya.

Tak ada perabotan yang berharga di rumah Sannari. Satu-satunya barang elektronik yang Sannari miliki hanya radio tua yang kerap dinyalakan saat suntuk. Sedangkan untuk kebutuhan listrik, Sannari meminta sambungan dari tetangga samping rumahnya.

Beberapa tahun lalu, Sannari rutin membantu warga memotong padi saat musim panen. Selain untuk pemenuhan stok beras selama satu tahun, sebagian gabah dari hasil potong padi itu dijual untuk kebutuhan sehari-hari.

Sejak maraknya penggunaan mesin pemotong padi, Sannari hanya bisa gigit jari. Dia hanya bisa membantu warga menjemur gabah yang upahnya tidak seberapa ketimbang pekerjaannya dulu.

“Dulu saya itu pergi potong padi. Sekarang sudah susah karena ada mobil pemotong padi itu. Paling tenaga saya hanya dipakai untuk menjemur gabah saja. Hasilnya memang sedikit dari pada dulu waktu masih pakai tangan orang. Kalau untuk lauk, saya biasanya pergi mancing di empang,” ungkapnya.

Kondisi ini jadi perhatian, guru PAUD setempat, Tairah, yang mengaku telah berkali-kali meminta pemerintah setempat untuk memberikan bantuan, seperti bedah rumah. Namun, sejak tahun 2012, permintaannya tidak pernah ada.

“Kami berharap, pemerintah setempat segera memberikan perhatian ke Sannari yang selama ini tidak mendapatkan haknya sebagai warga miskin,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Bontoa, Ardi Mochtar menyampaikan, pihak Kelurahan Bontoa sudah beberapa kali mengajukan bantuan untuk Sannari. Namun belum juga terealisasi.

“Tapi kami juga tidak tahu kenapa sampai saat ini belum terealisasi. Secepatnya kami akan berkoordinasi kembali agar warga kami itu bisa dapat bantuan,” jelasnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru