oleh

Bahu-membahu Bantu Gubuk Reyot Sannari di Suli-Suli Maros

-BERITA, SOSIAL-228 views

Gubuk reyot warga kurang mampu, Sannari (45 tahun), di Lingkungan Suli-suli Kelurahan Bontoa Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros, sudah dibongkar.

Rumah warga miskin
Aksi sosial bantu bedah rumah Sannari warga miskin di Suli-suli Bontoa Maros.

Pembongkaran dilakukan untuk bedah rumah yang mulai dikerjakan oleh tim gabungan relawan yang berasal dari beragam komunitas, organisasi sosial dan pemuda, serta masyarakat setempat.

“Setelah dibongkar, tim gabungan relawan mulai melakukan pengerjaan membangun kembali rumah ibu Sannari,” ujar koordinator aksi sosial relawan, Suryadi Ningrat, Senin (27//1/2020).

Untuk membantu Sannari, gabungan komunitas relawan kemanusiaan Maros menginisiasi gerakan sosial bedah rumah melalui aksi peduli mengumpulkan donasi dan mengerjakan perbaikan rumah.

Di antara komunitas itu ada PMI Maros, KSR-PMI Maros, Maros Nmax Community dan Pemuda Pancasila Maros.

Battala Maros Runners, JPKP Maros, Karang Taruna Kecamatan Turikale, Komunitas Perempuan Pinter (Komputer), Oemar Bakri Community Maros, Ormas Oi Maros dan Kiwal Garuda Hitam Maros.

Kurir Langit Maros, FK-PPKB PAUD Maros, Asosiasi Makeup Artis Indonesia Chapter Maros, Taruna Muhammadiyah Maros dan Trisari Grup Maros.

Pemuda Pancasila PAC Bontoa, alumni SMAN 6 Bontoa, alumni angkatan 85 SMAN 285 Maros, serta donasi dari sejumlah pihak.

Juga ada komunitas olahraga sepeda Salewangan Cycle Club (SCC) Maros yang diprakarsai A Armansyah Amiruddin, yang juga Camat Bontoa.

Sebelumnya Sannari mengaku sudah 40 tahun lebih menempati rumah tersebut bersama kedua orang tuanya dan seorang saudaranya.

Namun saat ini, sudah beberapa tahun hidup sendiri setelah kedua orang tuanya meninggal dunia dan saudaranya telah menikah dan memiliki kehidupan sendiri.

Sannari bekerja sebagai buruh tani, upah dari buruh tani pada musim panen mendapat dua karung gabah setiap satu petak tanah selesai dipanen.

Setelah mekanisasi pertanian digencaran, jasa sebagai buruh tani yang ditawarkan Sannari ke pemilik sawah, kini tergencet dengan mobil mesin pemanen.

“Kini hanya jadi penjemur padi saja setelah panen, itupun upahnya hanya Rp20 ribu untuk memenuhi kebutuhan makan secukupnya sehari,” ucapnya.

Sementara untuk memperbaiki rumahnya yang sudah reyot, diakui tidak memiliki dana, sehingga harus bertahan di rumah peninggalan orang tuanya, meski terkena matahari langsung karena atap rumahnya sudah berlubang sana-sini ataupun basah saat hujan turun. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru