oleh

Kopi Bentenge Mallawa Maros Telah Menjadi Komoditi Ekspor

-BERITA, RAGAM-204 views

Wakil Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman mengunjungi Desa Bentenge Kecamatan Mallawa Kabupaten Maros.

kebun kopi Mallawa Maros
Dalam kunjungan yang dilakukan pada Jumat 19 Juni itu, Wagub Sulsel diterima oleh Kepala Desa Bentenge dan Kepala Resort Mallawa Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).

Andi Sudirman Sulaiman  turun langsung melihat kebun pertanian kopi di desa itu. Ia menyampaikan kepada masyarakat pentingnya menjaga kualitas kopi.

“Kita patut bersyukur, Kementerian LHK, melalui  TN Babul telah membantu warga Bentenge. Selama ini kopi Bentenge telah menjadi komoditi ekspor melalui perusahaan di Makassar. Ke depan kita berharap Bentenge memiliki produk olahan dari kopi. Kita mau kopi yang berkualitas. Menjaga kualitas kopi sangat penting, sebaiknya kopi yang dikemas masih merah dan segar. Sehingga rasa bisa dipercaya,” ujarnya, melalui sulselonline.com, Selasa (23/6/2020).

Dia berharap, lahan yang dikelola masyarakat bisa lebih luas. Serta agar pengembangan kopi ini bisa mengurangi kesenjangan antar masyarakat. Ia pun mengingatkan menjaga kawasan hutan di sekitar.

Dia mengapresiasi pendampingan dari personil TN Babul Resor Mallawa. Ia akan turut membantu KTH Betara Bersatu dengan pupuk organik maupun kompos, bibit kopi arabika, hingga bibit tanaman budidaya tradisional.

“Masyarakat harus menjaga lahan yang di kelola, tidak merusak hutan. Jika masyarakat merusak hutan, dampaknya bisa terjadi bencana alam. Bersama-sama bertani, kerja sama, kelompok tani mengelola sangat baik, dan membangun kesepakatan bersama, jika berdikari ada negatifnya,” paparnya.

Setelah melihat kebun kopi yang dikelola masyarakat, ia akan memberikan bantuan bibit kopi berkualitas, serta bibit durian untuk dikembangkan masyarakat.

Sementara, Kepala Resort Mallawa Balai TN Babul Kementerian LHK, Andi Subhan menyampaikan bahwa TN Babul Kementerian LHK memberikan pendampingan pengelolaan kopi kepada kelompok tani hutan.

“Juga membantu lahan kepada kelompok seluas 119 hektare. Kopi yang akan dikembangkan ada 3 jenis, yaitu arabica, robusta dan gember,” ungkapnya.

Program pendampingan kepada petani kopi ini membantu dalam peningkatan ekonomi masyarakat.

Kementerian LHK akan mengevaluasi progres pertanian kopi masyarakat, untuk bantuan penambahan lahan nantinya.

“Wilayah ini sangat cocok untuk segala macam tanaman, jika masyarakat menjaga dengan baik lahan hutan dengan produktif. Maka kementerian akan memperluas lahan,” jelasnya.

Kebun kopi ini dikelola Kelompok Tani Hutan (KTH) Betara Bersatu, binaan TN Babul. Bentenge adalah desa penyangga TN Babul.

Pada September 2019, KTH Betara Bersatu terbentuk. Februari 2020, Balai TN Babul telah memberi akses kelola kepada KTH Betara Bersatu.  Memanfaatkan lahan pada zona tradisional TN Babul seluas 33 ha melalui mekanisme Perjanjian Kerjasama (PKS).

Untuk diketahui, Desa Bentenge terletak di ketinggian 709 Mdpl. Sekitar 11 km dari jalan poros Maros-Bone. Kecamatan Mallawa memiliki jumlah penduduk sekitar 1.000 jiwa. Desa ini memiliki potensi pertanian yang sangat produktif, di antaranya kopi.

Pengembangan kopi sangat berpotensi di wilayah Bentenge. Masyarakat desa itu telah menanam kopi hingga 20 tahun. Wilayahnya berbatasan hutan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Dalam produksi hasil pertanian kopi masyarakat, didampingi oleh Balai TN Babul Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru