oleh

Kapolres Maros Temui Massa Aliansi Masyarakat Bontoa yang Unjuk Rasa Tuntut Air Bersih

Sejumlah warga Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros melakukan unjuk rasa menuntut air bersih. Aksi unjuk rasa digelar di depan Kantor Bupati Maros, Kamis (25/6/2020).

Kapolres Maros Tenangkan Massa Unjuk Rasa Masyarakat Tanah Gersang
Aksi unjuk rasa ini dilakukan sejumlah organisasi mahasiswa dan masyarakat Bontoa, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Tanah Gersang “Bontoa Krisis Air Bersih”.

Dalam aksi unjuk rasa ini, mereka menyampaikan bahwa masyarakat Bontoa sudah berpuluh-puluh tahun tidak mendapat perhatian terkait ketersediaan air bersih.

Massa aksi unjuk rasa menuntut untuk bertemu dengan Bupati Maros, Hatta Rahman.

Petugas Satpol PP Maros dan aparat Polres Maros sempat bersitegang dengan massa karena massa mendorong pagar untuk memaksa masuk ke dalam kantor Bupati Maros.

Pengunjuk rasa juga sempat bersitegang dengan pihak Kepolisian saat mereka dilarang membakar ban di Jalan Poros Maros-Makassar.

Aksi tarik-menarik antara petugas dan massa pun sempat terjadi, namun suasana kembali kondusif.

Aksi unjuk rasa yang dilakukan di tengah pandemi ini, mengabaikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, yakni social distancing atau tidak berkumpul dan physical distancing atau jaga jarak fisik.

Kapolres Maros, AKBP Musa Tampubolon turun langsung untuk menenangkan demonstran.

Dia berbicara di mobil pikap agar massa berhenti menutup jalan dan pihaknya akan langsung menemui Bupati Maros, Hatta Rahman, agar menemui pengunjuk rasa.

Pengunjuk rasa pun berpindah ke Taman Kota Maros, yang berada tak jauh dari kantor Bupati Maros.

Tak lama, pihak Pemkab Maros menerima peserta aksi unjuk rasa. Pemkab Maros diwakili Sekretaris Daerah Maros, Davied Syamsuddin.

Dia menyampaikan bahwa pihaknya telah mengadakan uji geolistrik sebelumnya di wilayah Bontoa, namun, tak ditemukan sumber air bersih.

“Hasilnya air di sana air asin, karena memang sumber air bersih yang terdekat itu di Balitjas atau sekarang Balitsereal dan Bontojolong,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, pembangunan reservoir atau tangki penampungan air bersih sebenarnya sudah berjalan sejak 2019 dan tahun ini sisa tahap finishing.

“Tahun lalu nilai kontraknya Rp 880 juta untuk reservoir, pipanya Rp 1,4 miliar. Tahun ini finishing Rp 600 juta, pipa Rp 1 miliar,” jelasnya.

Dia menyebutkan, pipa yang terpasang sekarang sudah sejauh 8,3 km dan sudah masuk ke kantor Camat Bontoa.

“Tahun ini dilanjutkan lagi sejauh 8 km. Sehingga total panjang pipa sekitar 16 km,” ungkapnya.

Pengadaan fasilitas air bersih ini ditargetkan rampung Oktober 2020. Nantinya, pipa tersebut bakal terhubung ke bak-bak hidran yang akan dibangun di wilayah Bontoa.

Rencananya dipasang di fasilitas umum, seperti masjid, puskesmas atau gedung pemerintah.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kegiatan Air Bersih, Munawir, menambahkan, kapasitas tandon yang dibangun berkisar 200 meter kubik.

Masing-masing 100 meter kubik di Bontojolong dan Balitjas.

“Jadi, prosesnya, air diambil dari sumur bor, lalu ke kolam penampungan. Kemudian ke atas tandon, dari tandon dilempar ke jaringan pipa untuk masyarakat,” jelasnya.

Meski sempat berdebat dengan perwakilan Aliansi Masyarakat Tanah Gersang “Bontoa Krisis Air Bersih”, akhirnya diskusi berjalan lancar.

Pihak Pemkab Maros berjanji akan segera mengatasi krisis air yang ada di Kecamatan Bontoa. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru