oleh

BBVet Maros Jelaskan Tentang Rapid dan PCR untuk Tes Covid

-BERITA, RAGAM-160 views

Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk dapat menangani pandemi Covid-19 serta mencegah penyebaran penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2.

Penjelasan BBVet Maros Tentang Rapid dan PCR untuk Tes Covid
Berbagai kebijakan dan imbauan telah dilaksanakan dan disosialisasikan sebagai upaya untuk memutus rantai hidup virus tersebut.

Namun kebijakan dan imbauan saja belum cukup. Pengujian Covid-19 terhadap masyarakat juga sudah gencar dilakukan. Terutama bagi warga yang mendiami atau pernah berkunjung ke wilayah zona merah atau klaster-klaster penularan yang telah ditandai.

Kepala Bidang Pelayanan Veteriner Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros, Dr drh Muflihanah MSi mengatakan, terdapat 2 jenis uji atau test Covid-19 yang telah dilakukan dalam penanganannya, yaitu metode rapid test atau uji skrining/uji tapis dan uji PCR (Polymerase Chain Reaction) atau reaksi rantai polimerasi.

“Kedua uji ini memiliki cara kerja dan kegunaan masing-masing, namun keduanya bertujuan untuk mendeteksi individu yang positif terpapar virus, sehingga dapat dilakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk mencegah penyebaran virus,” ujarnya, Kamis (2/7/2020).

Selanjutnya, pihaknya memberi penjelasan tentang metode rapid test dan uji PCR sebagai metode tes Covid-19, berikut ini:

– Rapid test atau uji skrining

Sesuai namanya, rapid berarti cepat. Maka pengujian ini merupakan jenis pengujian yang cepat dan mudah dilakukan dengan tujuan untuk deteksi dini Covid-19.

Rapid test hanya dilakukan pada orang yang berisiko, baik dengan status OTG (orang tanpa gejala), ODP (orang dalam pemantauan), maupun PDP (pasien dalam pengawasan).

Adapun orang yang berisiko, yaitu orang yang pernah berkontak erat dengan orang sakit Covid-19 atau pernah berada di negara atau wilayah dengan penularan lokal dan memiliki gejala seperti demam atau gangguan sistem pernapasan (sesak napas/pilek/sakit tenggorokan/batuk).

Spesimen atau sampel yang dibutuhkan untuk pengujian rapid test Covid-19 adalah darah. Mekanisme pengujiannya, dengan mendeteksi reaksi antibodi dan antigen.

Ketika benda asing masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan menghasilkan antibodi yang beredar dalam darah.

Antibodi akan terbentuk setelah beberapa hari, sehingga kemungkinan individu yang baru terinfeksi akan menunjukkan hasil negatif, dikarenakan akumulasi antibodi yang terbentuk belum cukup untuk menunjukkan gejala.

Hal ini disebut negatif palsu, yang bermakna belum tentu tidak ada virus di dalam tubuh.

Oleh karena itu, orang berisiko yang menunjukkan hasil negatif uji cepat Covid-19, maka harus melakukan isolasi mandiri selama 10 hari, kemudian dilakukan uji cepat kembali untuk peneguhan hasil uji.

Adapun interpretasi dari pengujian ini didasarkan pada bentukan pita. Hasil positif, jika terbentuk 2 pita (pita kontrol positif dan sampel). Sedangkan hasil negatif hanya terbentuk 1 pita (pita kontrol positif).

– PCR (Polymerase Chain Reaction) atau reaksi rantai polimerasi

PCR adalah pengujian dengan teknik memperbanyak atau replikasi DNA (Deoxyribonucleic acid) secara enzimatik melalui mekanisme perubahan suhu dengan menggunakan mesin.

Inti dari pengujian PCR adalah mendeteksi keberadaan antigen (virus, bakteri, dan lain-lain). Spesimen atau sampel yang dibutuhkan untuk uji PCR Covid-19 adalah swab nasofaring/hidung.

Untuk memulai pengujian PCR dilakukan beberapa tahap, yaitu pembuatan reaksi mix PCR, ekstraksi sampel untuk mendapatkan RNA (Ribonucleic acid) atau DNA virus dari sampel, penambahan template RNA atau DNA ke dalam reaksi. Selanjutnya sampel dimasukkan ke dalam mesin.

Hasil pengujian dapat dianalisa secara langsung jika menggunakan metode Real Time PCR. Interpretasi dari pengujian ini didasarkan pada nilai CT (Cycle Threshold) yang terbentuk dari mekanisme perubahan suhu pada mesin.

PCR memberikan hasil yang akurat dan spesifik sehingga menjadi gold standar test untuk Covid-19.

Namun, uji PCR memiliki keterbatasan terhadap alat yang tidak selalu tersedia di seluruh wilayah Indonesia, serta kapasitas jumlah sampel yang diuji laboratorium.

Pengujian PCR juga membutuhkan keterampilan khusus pada personel yang mengerjakan serta laboratorium dengan spesifikasi minimal BSL (Biosafety level) 2. Setiap tahapan uji PCR juga memerlukan ruangan yang berbeda dengan harus mengikuti alur dari area bersih ke area kotor.

Alat pelindung diri yang dikenakan dan peralatan yang digunakan juga tidak dapat dipakai antar/lintas area. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi RNA dan DNA yang dapat berpengaruh terhadap hasil uji.

BBVet Maros
Untuk diketahui, BBVet Maros merupakan satu dari delapan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

BBVet Maros mempunyai tugas melaksanakan pengamatan dan pengidentifikasian diagnosa, pengujian veteriner dan produk hewan, serta pengembangan teknik dan metode penyidikan, diagnosa, dan pengujian veteriner berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 54/Permentan/OT.140/5/2013.

BBVet Maros berlamat di Jalan Dr Ratulangi Kelurahan Allepolea Kecamatan Lau Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. (*)

* Penjelas di atas telah tayang di laman web BBVet Maros dengan judul; “Pengujian COVID-19 Menggunakan Rapid Test Dan PCR [Infografis]” pada tautan; http://bbvetmaros.ditjenpkh.pertanian.go.id/blog/pengujian-covid-19-menggunakan-rapid-test-dan-pcr-infografis

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru