oleh

Murid SD di Cenrana Maros Belajar di Rumah Kades karena Kesulitan Jaringan Internet

-BERITA, RAGAM-603 views

Puluhan murid Sekolah Dasar (SD) di Desa Cenrana Baru Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros, terpaksa belajar di rumah kepala desa (kades) karena sulitnya jaringan internet.

Murid SD di Cenrana Maros Belajar di Rumah Kades karena Kesulitan Jaringan Internet
Kades tersebut memang menyediakan fasilitas internet gratis di rumahnya.

Jaringan internet di wilayah ini memang sejak dulu tidak pernah terjangkau dengan fasilitas telekomunikasi yang baik. Jangankan internet, untuk sekadar menelepon atau SMS saja sulit.

Demi mendapatkan jaringan internet, pihak desa harus membeli alat penguat sinyal yang disambungkan ke modem, yang harganya mencapai jutaan rupiah.

Namun, koneksi internet yang diterima sangat terbatas dan tidak stabil. Bahkan saat hujan ataupun ada angin, koneksi internet juga hilang.

“Anak-anak di sini memang tidak bisa belajar online di rumah mereka karena jaringan internet tidak ada. Jangankan internet, untuk menelepon atau SMS saja itu sangat sulit. Harus ke atas gunung dulu,” ujar Kades Cenrana Baru, Andi Zaenal, Selasa (11/8/2020).

Puluhan siswa dari berbagai tingkatan kelas itu datang ke rumah kades dengan membawa gawai mereka. Karena koneksi internet terbatas, mereka harus antre menyambungkan ke internet.

Bagi anak yang tidak memiliki gawai, kades terkadang meminjamkan gawai miliknya untuk dipakai belajar.

“Hanya ada beberapa saja yang punya HP, jadi kadang ada satu HP untuk lima orang anak. Kadang juga HP saya kasi pinjamkan. Mereka tidak bersamaan tersambung karena terbatas, jadi harus antre,” jelasnya.

Kondisi yang sudah berlangsung sejak lama ini telah berkali-kali disampaikan ke pihak terkait.

Hanya saja, hingga kini belum ada penyedia jasa jaringan telekomunikasi yang membangun jaringan ke wilayah yang berpenduduk sekitar 2.000 jiwa ini.

“Kami sudah sampaikan ke pihak terkait, tapi memang belum ada respon. Kami berharap ada provider yang mau membangun jaringannya ke desa kami ini untuk bantu warga dalam kondisi seperti ini,” katanya.

Tak hanya pihak desa, beberapa warga yang memiliki modem juga harus mensiasati kondisi ini dengan membuat antena dari tiang bambu setinggi belasan meter, yang kemudian digunakan untuk menggantungkan modem.

“Banyak warga disini, pasang tiang panjang di depan rumah mereka untuk dibuat gantungan modem. Kalau cuacanya lagi bagus, lumayanlah bisa untuk WhatsApp. Kalau browsing sangat lambat sekali,: jelas warga, Ikbal.

Karena membutuhkan akses internet yang stabil, warga yang merupakan pelajar SMP, SMA dan yang sudah kuliah, harus ke desa tetangga yang jaraknya mencapai 4 kilometer untuk mendapatkan jaringan internet.

“Ada lokasi kebun di atas gunung yang sudah masuk desa sebelah itu bisa dapat 4G. Siswa SMP, SMA dan yang kuliah juga tiap hari ke sana. Lumayan jauh dari sini, sekitar 4 kilometer,” ungkapnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru