oleh

Memandang Pesona Matahari Terbenam dari Puncak Baro Baro Maros

Spot wisata baru terus dikembangkan di Kabupaten Maros, seperti Puncak Baro Baro yang terletak di kawasan pegunungan karts Leang Leang Bantumurung Maros.

Memandang Pesona Matahari Terbenam dari Puncak Baro Baro Maros
Meski baru mulai ramai belakangan ini, namun pemandangan dari atas ketinggian 110 meter yang disuguhkan untuk pengunjung membuat tempat ini layak dikunjungi.

Pemandangan matahari terbenam yang ditawarkan sangat indah, matahari terlihat jelas dari ketinggian di Puncak Baro Baro dan cocok dijadikan tempat berswafoto.

Selain itu, pengunjung bisa melihat pemandangan bebatuan karst dan hamparan sawah, serta pemukiman warga dengan jelas dari Puncak Baro Baro.

Untuk sampai ke lokasi, hanya perlu menempuh jarak sekitar 5 kilometer dari kota Maros, menggunakan kendaraan roda dua maupun empat.

Puncak Baro Baro berada di Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros.

Sebelum berjalan ke Puncak Baro Baro, pengunjung harus membayar biaya tiket sebesar Rp 5 ribu dan setiap pengunjung diwajibkan mencuci tangan di pos penjagaan.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan melewati jalan setapak.

Meski sedikit menguras tenaga, namun sepanjang perjalanan akan disuguhkan dengan berbagai keindahan unik bebatuan karst yang menjulang tinggi.

Seorang pengunjung, Andi Nurlaelatulfauz mengatakan, dirinya pertama kali ke sini dan menurutnya pemandangan sunset yang disuguhkan sangat indah.

“Ini taunya dari sosial media. Di sini tempatnya keren, bisa menikmati sunset,” ujarnya, Minggu (29/9/2020).

Meski perjalanan yang ditempuh melelahkan, tapi pemandangan yang disuguhkan mampu membayar rasa lelah tersebut.

Sebelum ramai dikunjungi, spot wisata ini awalnya dikembangkan pada tahun 2018 oleh anak muda setempat. Mereka terinspirasi mengelolah objek wisata dari kegemaran mendaki gunung ke berbagai daerah tanah air.

Ketua Kelompok Sadar Wisata Baro-baro, Dedi Yunus mengatakan, penamaan Puncak Baro Baro, diambil dari legenda masyarakat sekitar, yang berarti tameng atau pelindung.

Pada tahun 1950 silam, sebuag goa di gunung ini dijadikan tempat untuk berlindung dari gerombolan di masa itu.

“Awal pengembangan wisata alam dan karst gunung Baro Baro ini berdasarkan minat anak muda sekitar sini, yang rata-rata hobi mendaki gunung. Dari situ mereka terinspirasi untuk membuat wisata gunung Baro Baro ini. Di sini juga ada goa baca, yang disediakan untuk pengunjung yang ingin membaca,” jelasnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru