oleh

Camat Cenrana Maros Berharap Penyedia Telekomunikasi Bangun BTS

Kondisi Desa Cenrana Baru Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros yang belum dijangkau jaringan telekomunikasi seluler butuh perhatian sejumlah pihak.

Desa Cenrana Baru Maros
Camat Cenrana, Suardi Sawedi mengemukakan, Desa Cenrana Baru termasuk area blank spot, yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi seluler.

Hal ini makin terasa di masa pandemi Covid-19, saat proses pembelajaran jarak jauh diterapkan. Para siswa dan mahasiswa di desa ini mesti berjalan jauh mencari jaringan telekomunikasi untuk bisa mengakses internet.

Pasalnya belum ada menara Base Transceiver Station (BTS) atau peranti komunikasi penerima sinyal di desa ini.

“Kita berharap penyedia telekomunikasi membangun BTS di wilayah tersebut,” ujarnya, Senin (12/10/2020).

Sebelumnya, Kepala Desa Cenrana Baru, Andi Zaenal mengemukakan, para siswa tidak bisa belajar online di rumah mereka karena tidak ada jaringan internet.

Untuk mendapatkan sinyal internet, warga harus pergi ke perbukitan.

“Jangankan internet, untuk menelpon atau mengirim pesan singkat saja sangat sulit. Harus ke atas gunung dulu untuk bisa menikmati jaringan,” ujarnya.

Untuk memfasilitasi pelajar melakukan pembelajaran daring atau online pihak desa mengeluarkan anggaran jutaan rupiah yang digunakan untuk membeli alat penguat sinyal yang disambungkan ke modem.

Hanya saja, koneksi internet yang diterima sangat terbatas dan tidak stabil. Bahkan saat hujan atau ada angin kencang, koneksi internet juga hilang.

“Penguat sinyal dam modem dipasang diikat di batang bambu, dipasang seperti antena, agar jaringan internet bisa dinikmati,” ungkapnya.

Untuk mengatasi permasalahan keterbatasan jaringan internet, pihaknya sudah berulang kali melakukan permohonan ke penyedia layanan internet, namun sampai saat ini belum ada penyedia jasa jaringan telekomunikasi yang membangun jaringan mereka ke wilayah yang berpenduduk sekitar 2.000 jiwa itu.

“Kami sudah sampaikan ke pihak terkait, tapi memang belum ada respon. Kami berharap adalah provider yang mau membangun jaringan ke desa Cenrana Baru untuk bantu warga dalam kondisi seperti ini,” jelasnya.

Sebagai kepala desa, dirinya ingin tetap melihat pelajar di daerahnya semangat belajar daring meski keterbatasan jaringan internet. Sebab saat ini untuk kembali bersekolah secara tatap muka belum bisa dilakukan.

“Jangan sampai hanya karena keterbatasan jaringan internet, pelajar yang ada di Desa Cenrana Baru ini ketinggalan pelajaran sekolah. Kami berharap pelajar yang sedang menempuh pendidikan di masa pandemi semangatnya tidak pernah surut untuk belajar daring,” tambahnya.

Warga Desa Cenrana Baru, M Ikbal menyampaikan, untuk mendapatkan sinyal internet yang stabil mereka harus menempuh perjalanan sejauh 4 kilometer dengan berjalan kaki.

“Lokasi jaringan internet yang stabil berada di kebun warga yang berada di atas perbukitan. Di area tersebut bisa didapatkan jaringan 4G, siswa SMP, SMA dan mahasiswa tiap hari ke sana,” ujarnya.

Sebagian warga yang khawatir anaknya pergi jauh hanya untuk mencari internet, membeli modem dan menyiasati kondisi ini dengan membuat antena dari tiang bambu setinggi belasan meter, yang kemudian digunakan untuk menggantung modem.

“Banyak warga di sini pasang tiang bambu panjang di depan rumah mereka untuk dibuat gantungan modem. Kalau cuaca lagi bagus, lumayanlah bisa untuk whatsapp, meski untuk browsing sangat lambat,” paparnya.

Untuk diketahui, Desa Cenrana Baru memiliki luas wilayah 31,13 kilometer persegi dan berada di ketinggian kurang lebih 700 meter di atas permukaan laut. Desa Cenrana Baru memiliki 5 wilayah pembagian administrasi, yakni Dusun Arokke, Dusun Maccini, Dusun Malaka, Dusun Matanre dan Dusun Tanete.

Jumlah penduduk kurang lebih 2.000 jiwa dengan jumlah wajib pilih kurang lebih 1.500 orang (data Pemilu 2019), tingkat kepadatan penduduk sebesar 57,44 jiwa per kilometer persegi (data tahun 2017).

Desa Cenrana Baru berbatasan dengan Kecamatan Camba di sebelah utara, Desa Laiya dan Kabupaten Bone di sebelah selatan, Desa Rompegading, Desa Baji Pa’mai, Desa Lebbotengae dan Desa Limampoccoe di sebelah barat, serta Kecamatan Camba di sebelah timur.

Desa ini berjarak sekitar 40 kilometer dari Turikale, ibu kota Kabupaten Maros. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru