oleh

Budayawan Maros: Sifat Leluhur Marusung-rusung Harus Dijaga

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbupar) Kabupaten Maros menggelar pameran bertajuk ‘Maros Tempo Doeloe’.

Disbudpar TPS
Dalam pameran ini ditampilkan benda-benda koleksi Museum Daerah Maros, seperti sepeda onthel, becak, bendi, badik, keris, uang koin, perlengkapan makan raja, foto-foto Maros zaman dahulu dan lainnya.

Pameran ini dirangkaikan dengan lomba tabuh gendang tradisional Bugis Makassar. Melibatkan berbagai organisasi kebudayaan dan sanggar seni serta kolektor barang antik.

Kepala Disbudpar Maros, M Ferdiansyah menyampaikan, kegiatan ini menjadi rangkaian kegiatan dari anggaran dana alokasi khusus (DAK) non fisik BOP-MTB 2020.

Merupakan hasil dari kegiatan yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu, yakni seminar tata kurator museum daerah, seminar hasil kajian museum, pelatihan pengelolaan rumah singgah atau homestay dan pelatihan pemandu wisata.

“Kita berharap kegiatan ini menjadi wujud nyata agar kiranya masyarakat Maros semakin mengenal kearifan budaya lokal yang ada di Maros,” ujarnya, Selasa (17/11/2020).

Forum Komunikasi Dara dan Daeng Maros sebagai lembaga yang bergerak pada bidang pariwisata dan kebudayaan ikut berperan dalam kegiatan yang digelar di Taman Wisata Alam Bantimurung Maros, Sabtu dan Minggu, 14-15 November 2020 ini.

Menurut Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Maros, H Andi Fahry Makkasau, pameran ‘Maros Tempo Doeloe’ ini menampilkan kekayaan Maros zaman dahulu.

Ia juga menyampaikan bahwa nama Maros diambil dari bahasa Bugis “Marusu” dengan julukan “Butta Salewangang” yang berarti sejahtera lahir dan batin.

“Secara ekonomi, sejahtera sudah terbukti, hanya secara sosiologis kita semakin kehilangan makna. Sehingga membuat kita harus kembali menanamkan sikap empati dan toleran yang lebih jauh. Karena Marusu atau marusung-rusung menggambarkan kekompakan, perdamaian, tenggang rasa dan hal itu diambil dari sifat leluhur kita. Hal itu harus kita jaga sebagai bukti anak keturunan Marusu,” ungkapnya.

Pada kegiatan ini juga ditampilkan eksprimen lukisan gua, dimaksudkan untuk membangun refleksi para pengunjung pameran agar mengetahui sejarah Maros.

Pada lukisan tersebut diperlihatkan cetakan tangan manusia prasejarah tertua di dunia ada di Maros. Juga ditampilkan replikas “Manusis Maros” dan mata panah “Marospoint” untuk memperkenalkan peradaban manusia pertama di dunia ada di Maros. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru