oleh

Pasangan Suami Istri Usia 60 Tahun Ikut Isbat Nikah Massal di Maros

Pemkab Maros bersama Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama menggelar sidang isbat pencatatan pernikahan.

Sebanyak 60 pasangan suami istri mengikuti kegiatan ini, bahkan ada pasangan sudah berusia 60 tahun.

Kegiatan ini untuk pencatatan pernikahan massal muslim, dengan penerbitan buku nikah dan dokumen administrasi kependudukan (Adminduk).

Diadakan di Gedung Serbaguna di Kecamatan Turikale Kabupaten Maros, pada Senin 16 November 2020.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Maros, Eldrin Saleh mengatakan, pelaksanaan ini berlandaskan pada Peraturan Mahkamah Agung RI nomor 1 tahun 2015 tentang pelayanan terpadu sidang keliling Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama.

Hal ini untuk penertiban akta perkawinan, buku nikah, dan akta kelahiran.

“Dalam pelaksanakan sidang isbat ini, ada sekitar 122 pasangan suami istri. Namun karena merujuk pada peraturan protokol kesehatan, maka pelaksanaannya dibagi dalam dua tahap,” ujarnya, Rabu (18/11/2020).

Dari 122 pasangan suami istri yang mengikuti sidang isbat, 38 pasangan berasal dari Kecamatan Turikale, sebanyak 66 pasangan dari Kecamatan Maros Baru, sebanyak 18 pasang suami istri dari Kecamatan Tanralili.

“Kita bagi dalam dua tahap pelaksanaan. Hari Senin ada sebanyak 60 pasangan. Sementara 62 pasang akan menjalani sidang isbat pada pekan depan.  Jadi total pasangan suami istri yang menjalani sidang isbat sebanyak 122 orang pasutri,” jelasnya.

Pelaksanaan nikah isbat bagi pasangan suami istri atau pasutri yang belum memiliki buku nikah ini juga bertujuan untuk memberikan perlindungan dan pengakuan terhadap penentuan status pribadi, dan status hukum atas setiap peristiwa kependudukan.

Serta peristiwa penting yang dialami masyarakat Maros terutama masyarakat yang kurang mampu.

“Kami juga memfasilitasi pasangan suami-istri yang kurang mampu untuk memperoleh hak kutipan buku nikah secara gratis dan legal,” ujarnya.

Apalagi banyak pasutri yang menikah hanya di imam saja, karena terkendala masalah biaya pernikahan yang dianggap memberatkan.

Sementara itu, pasutri yang menjalani sidah isbat, St Salamah (62) mengatakan, mereka telah menikah sejak tahun 1972. Sebelumnya mereka telah memiliki buku nikah. Hanya saja buku nikahnya hanyut saat banjir melanda tempat tinggalnya puluhan tahun yang lalu.

“Kami menikah tahun 1972, dulu pernah ada buku nikah, tapi hanyut tersapu banjir puluhan tahun lalu,” ujarnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru